Ritual di Puncak Gunung Di Percaya Redam Gelora Ile Lewotolok
Mitigasi Bencana Menurut Kearifal lokal

By Admin HJ 16 Jan 2021, 17:26:06 WIB Daerah
Ritual di Puncak Gunung Di Percaya Redam Gelora Ile Lewotolok

Keterangan Gambar : Yakobus Asan, Pelaku Ritual Adat Di Puncak Ile Lewotolok, Menunjukan Peralaran Ritual di Puncak


PARA pemangku adat kampung tradisional Lewuhala, di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Rabu, 13 januari 2021 lalu melakukan ritual adat di Puncak Gunung Ile Lewotolok.

Sebanyak 13 warga Desa Jontona berhasil mencapai puncak gunung Ile Lewotolok, sekaligus menggelar ritual adat.

Baca Lainnya :

Ritual yang berlangsung hanya beberapa meter dari puncak kawah itu bertujuan memberi makan dan sandang bagi leluhur penunggu gunung yang diyakini sedang murka.

Yakobus Asan Balawanga, pelaku ritual adat, menyebutkan, ritual adat di puncak gunung Ile Lewotolok (Ili Anakoda- penyebutan Gunung Ile Lewotolok menurut kepercayaan adat Lewohala-Red), dengan membawa potongan sarung, kapas, miniature Naga dan Ara Bora (ular), serta perlengkapan ritual lain.  

Rital adat tersebut di gelar berdasarkan penerawangan spiritual Bele Raya atau Penguasa kampung adat. Ia kemudian mengutus pelaku ritual (molan-red) untuk melakukan ritual adat langsung di puncak Gunung yang sedang bergelora itu.

Warga setempat menyakini, Gunung Ile Lewotolok murka karena ada sederetan kesalahan atau dosa yang dilakukan pengunjung di Puncak Gunung, setelah pemerintah membuka Kawasan puncak sebagai salah satu objek Pariwisata. Perilaku tersebut antara lain membuang sampah (pembalut wanita), perilaku pacaran, serta membunuh ular.

Bahkan sang pembuang sampah pembalut kewanitaan itu nyaris “hilang” di puncak. Beruntung, warga segera menjemputnya ke Puncak gunug pada pukul 23.00 malam.

Menurut kepercayaan adat Kampung Lewuhala, Kampung tradisional dengan penyebaran penduduk dari Desa Riang Bao sampai Desa Jontona, penunggu Gunung Ile Lewotolok adalah sepasang suami isteri yang bernama Kayo Wua Boli Aman (laki-laki), Dai Bali Nere Ina (Perempuan).

Pasangan Suami isteri ini memiliki kekuatan seekor Naga bermata 7. Naga ini berpasangan dengan Ara Bora (ular). Ara Bora atau ular dipercaya warga setempat menghuni sumur yang terletak di dalam Desa Jontona saat ini.

“Kami percaya Naga bermata 7 itu sebelah badannya ada di Alor (Alum Laga), Adonara Lama Taum, Kedang Klikur, Lebala, Solor Watan Lema. Nanti urat nadi kaki tangan Naga itu ada di Sumba dan Sangir. Pada saat ritual, kita sebut semua nama tempat itu, kemudian diletakan kapas putih, pertanda kehadiran seluruh leluhur,” ujar Yakobus Asan Balawanga, pelaku ritual adat Di Desa Jontona.  

Disebutkan, ritual yang dilakukan di Puncak harus diikuti oleh warga dengan jumlah ganjil.

“Kami buat ritual di puncak, jumlah orang yang ikut harus ganjil. Kalau genap tidak boleh ke atas. Karena Naga berada di atas puncak, berpasangan seekor ular (Ara Bora) menjadi penunggu Sumur di Desa Jotona, matanya ada 7 (bilangan ganjil),” ujar Yakobus Asan Balawanga.

Warga berharap, amuk gunung dapat meredah setelah ritual yang di lakukan di Puncak Gunung Ile Lewotolok.

Data Seismik Aktivitas Gunung Ile Lewotolok Terkini

Memasuki bulan ke dua pasca erupsi hebat, 29 November 2020 lalu, aktivitas fulkanik Gunung Ile Lewotolok belum juga meredah. Sementara, masyarakat adat di lereng gunung tersebut terus menggelar ritual adat, agar gelora Gunung berapi tersebut segera berakhir.

Pada Jumad Kemarin, terjadi 44 kali erupsi dan 117 kali gempa hembusan. Tak hanya itu, banjir lahar dinginpun meluap di 4 Desa. Pada pertengahan hari ini, Sabtu (16/1), telah terjadi 21 kali erupsi.

Data Seismograf dirilis Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ili Lewotolok menunjukan, pada Periode Pengamatan Sabtu (16/01/2021), pukul  06:00-12:00 WITA, Gunung Api dengan ketinggan, 1423 mdpl itu, mengalami 21 kali letusan dengan tinggi 200-700 m. Letusan tersebut mengeluarkan warna asap putih dan kelabu.

Sedangkan, kegempaan didominasi hembusan dengan Jumlah 12, Amplitudo 8-31 mm, Durasi 17.5-27.5 detik.

Letusan itu disertai gemuruh dan dentuman lemah dan sedang dengan ketinggian lk 200-700 mdpck.

Pihak Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Ili Lewotolok, merekomendasi warga mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar terutama pada sungai-sungai yang berhulu disekitar lereng G. Ili Lewotolok.

Selain itu, Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

Sehari sebelumnya, Kamis (15/1/2021), teramati 44 kali letusan dengan tinggi 200-700 m dan warna asap putih dan kelabu.

Letusan di sertai dengan gemuruh lemah hingga sedang. Teramati sinar api tinggi lk 300-500 mdpck disertai lontaran material pijar sejauh lk 200- 500 mdpck ke arah Tenggara.

Sementara gempa Hembusan tercatat terjadi 117 kali, dengan Amplitudo 1.5-31 mm serta Durasi, 12-30 detik.(*S/Hj).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment