Perkuat BLK, Gubernur Laiskodat Sumbang 100 Juta Untuk BLK Komunitas Karitas Peduli
Back To Normal

By Admin HJ 29 Jul 2020, 12:52:10 WIB Daerah
Perkuat BLK, Gubernur Laiskodat Sumbang 100 Juta Untuk BLK Komunitas Karitas Peduli

Keterangan Gambar : Perkuat Peran BLK, Gubernur Laiskodat Sumbang 100 Juta Untuk BLK Komunitas Karitas Peduli


PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Timur berkomitmen memperkuat peran BLK di daerah guna menciptakan sumber daya yang memiliki life skill, bekal untuk kemandirian hidup rakyat. 

Sebagi wujur komitmen kuat tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, Rabu (29/7/2020) menyerahkan bantuan senilai Rp. 100 juta kepada balai latihan kerja (BLK) Komunitas Karitas Peduli, milik konggergasi SSPS, di Desa Pada, kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.  

Bantuan diserahkan oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, dr. Messerassi B. V. Ataupah kepada Kepala Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Karitas Peduli, Sr. Margareta, SSPS, dalam kesempatan kunjungan kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat selama dua hari di Lembata. 

Baca Lainnya :

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat, Rabu (29/7/2020) menyebutkan, pihaknya mendorong keberlanjutan balai latihan kerja (BLK) yang dikelola lembaga ini agar menjadi kekuatan utama melahirkan SDM sebagai kekurangan dan tatangan di NTT khususnya di Lembata.  

“Pemerintah beri apresiasi untuk itu. Kerjasama pemerintah itu dengan Lembaga-lembaga yang punya kepedulian dalam membangun sumber daya manusia. Tidak boleh pendekatannya semata-mata alasan-alasan politis. jadi atau tidak jadi urusan. Kalau semangat  ini tetap terjaga dan dikembangkan dengan baik, kedepan kita punya SDM yang bukan hanya kemampuan intelektual baik, tapi mereka punya skill.  Maka tidak ada pilihan lain oleh pemerintah, Kita harus bersama-sama bangun Balai Latihan Kerja ini,” ujar Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat.  

Gubernur NTT menyebutkan, mencari orang untuk menjadi instruktur itu susah. Transfer mind set sehingga mereka bisa merubah pola pikir itu sebuah pekerjaan susah, tapi yang lebih susah lagi menemukan orang untuk mentrasfer mind set kepada orang lain itu dua pekerjaan susah.

Dikatakan, tahap pertama, punya orang, punya sebuah lembaga yang mempu mentransfer baik knowledge maupun skill kepada orang lain untuk mampu berdikari dalam hidup.

“Saya tertarik betul kepada Lembaga-lembaga seperti ini. Saya meyakini kalau kita design dengan sungguh-sungguh, SDM manusia NTT punya skill, baik penguasaan bahasa dan keterampilan lain yang bisa membuat mereka mampu hidup sendiri. Saya senang, SSPS, dedikasikan diri untuk pekerjaan ini. Jadi ini sebenarnya pekerjaan Gubernur yang diambil SSPS. Saya ingin secara bertahap, disini ada kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi NTT, untuk terus menerus mendampingi. Selesai dilatih di sini tidak boleh stop. Mereka harus dilanjutkan. Pa Bupati tadi bisik saya, setelah ini dia masuk dengan pemberdayaan supaya bisa berkelanjutan. Jadi nanti 100 juta rupiah dari Bupati. Kalau ini disiapkan dengan baik kedepan mengajak orang datang berlatih dan dibiarkan mandiri tentu akan susah,” ujar Gubernur Laiskodat.

Sementara itu, Kepala Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Karitas Peduli, Sr. Margareta, SSpS menjelaskan, Balai Latihan Kerja SSPS, mulai beroperasi awal September 2019 setelah diresmikan oleh Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur pada 30 oktober 2019.

“kami jalankan tiga program dalam taraf sederhana, design mode atau tata busana, dengan 9 peserta dan 9 mesin jahit, karena tempatnya tidak mencukupi kami batasi 9, kedepannya akan dikembangkan. Kedua, pelatihan pengolahan ikan segar dengan peserta ibu-ibu dan gadis-gadis desa Pada, keterampilan Bahasa Inggris untuk dewasa tapi kami introduksinya anak-anak agar manarik orang tuanya, penampilan perdananya dipersembahkan untuk Gubernur tadi,” ujar Sr. Margareta, SSpS.

Sr.Margatera SSpS menyebutkan, arah dari pelatihan ini yakni para suster SSPS ingin bahu membahu, bersama pemerintah mensukseskan program pemerintah yakni mengurangi angka pengangguran, menekan angka perantauan.

“kami orang Flores Timur dan Lembata suka merantau, kami bekali dengan keterampilan, kalaupun mereka pergi mereka sudah dibekali keterampilan, baik dari segi keterampilan rumah tangga dan keterampilan Bahasa. Saat ini kami sedang buka pendaftaran untuk Bahasa Inggris Dewasa dan Calon TKI,” ujar Sr. Margareta, SSpS.  

Di hadapan Gubernur Nusa Tenggara Timur bersama rombongan, suster Margareta mengaku, tantangan BLK ini adalah bagaimana merubah mind set orang.

“Tantangannya Pa Gubernur, it is not about funding, not about money. But how do you get people change their mind set. Bahwa proses pemberdayaan itu butuh waktu dan ketekunan,” ujar Sr.Margareta, SSpS. (*S/HJ).  





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment