Obat-obatan Langka, Permintaan Donor Plasma Darah Pasien Covid di Lembata Terus Meningkat

By Admin HJ 20 Jul 2021, 22:10:57 WIB Daerah
Obat-obatan Langka, Permintaan Donor Plasma Darah Pasien Covid di Lembata Terus Meningkat

DI TENGAH PPKM berskala Mikro level 4 yang ditingkatkan, ketersediaan peralatan donor plasma darah maupun obat-obatan paten di tengah meningkatnya pandemi Covid-19 di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, membutuhkan penanganan segera.

Dukungan obat-obatan bagi pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri akibat reaktif rapid test mulai langka.

Akibat kelangkaan obat, sejumlah pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri terpaksa tidak mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter.

Baca Lainnya :

Kerabat salah satu warga reaktif covid-19 di kepada media ini, Selasa (20/7/2021) mengeluhkan langkanya obat vitamin yang telah diresepkan Dokter guna menopang proses isolasi mandiri.

"RS saja tidak ada obat, suru cari ke apotik juga obat tidak ada. Terus apotik juga mulai menaikan harga. Obat Azitromycin 500 mg, juga mahal. Harganya 15 ribu rupiah per butir. Sedangkan obat vitamin B Com C, tidak ada walaupun di cari ke semua apotik di dalam kota Lewoleba," keluh kerabat salah satu warga yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Di tempat terpisah, permintaan donor plasma darah bagi pasien Covid-19 di RSUD Lewoleba terus meningkat. Namun permintaan tersebut sulit terlaksana karena ketiadaan alat donor plasma darah.

Akibatnya, pasien Covid-19 yang hendak menjalani donor plasma darah terpaksa dipulangkan pihak RSUD Lewoleba untuk menjalani isolasi mandiri di rumah.

"Teman saya ini sedang dirawat di RSUD Lewoleba. Karena kondisinya menurun, ia di minta dokter untuk mencari donor plasma darah. Setelah kami dapatkan orang yang rela mendonor plasma darah, ternyata alat donor di RSUD Lewoleba tidak ada. Jadi sekarang teman saya itu dipulangkan ke rumah dalam kondisi sesak napas," keluh kerabat salah satu pasien covid-19 yang hendak di donor plasma darah.

Direktur RSUD Lewoleba, Dokter Bernard Yosep Beda, kepada media ini mengaku, RSUD Lewoleba belum memiliki alat donor plasma darah.

"RSUD belum bisa. Kita belum punya alat. Sampai sekarang, untuk plasma semuanya di PMI Propinsi," ujar Direktur RSUD Lewoleba, Dokter Bernard Yosep Beda.

Sejumlah pihak pun menyayangkan adanya rekomendasi donor plasma darah, padahal peralatan donor sendiri tidak ada.

"Ini hampir setiap hari orang meninggal karna tidak bisa tertolong. Salah satu alasan medisnya donor plasma atau apapun namanya tu.Lalu solusinya gimana harus diambil langkah," ujar  Jufri Lamabelawa, pengacara dan salah satu tokoh muda Lembata.

Menurut praktisi hukum ini, jika ada anggaran di eksekusi dulu nanti di sesuaikan dengan dokumen pendukungnya.

"Kalau takut itu jadi delik pidana karena belanja tanpa rujukan hukum, Konsultasi ke Jaksa biar dapat petunjuk dari Jaksa baru eksekusi segera. Ini situasi luar biasa. Ada pengecualian dalam penegakan hukum," imbuh Lamabelawa. (*S/Hj).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda