Menanti Damai Dari Puncak Gunung Ile Lewotolok
Fase Normal

By Admin HJ 10 Jan 2021, 14:25:16 WIB Daerah
Menanti Damai Dari Puncak Gunung Ile Lewotolok

Keterangan Gambar : Lontaran lava Pijar di Puncak Gunung Api Ile Lewotolok


SABTU, 9 Januari 2021 malam. Cuaca mendung. Gerimis membasahi Kota Lewoleba, tak kuasa menahan langkah menuju Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Baca Lainnya :

Kolega mantan wartawan, yang kini menjabat Ketua KPUD Kabupaten Lembata, Elias Keluli Making, menelpon ingin plesiran, menenteng tas kamera, tripot, laptop dan mendekati sumber berita. Ah, kawan satu ini rupanya kangen juga dengan dunia yang pernah kami geluti bersama.

Ia tak ingin merubah cara kami bergumul dengan fakta di lapangan. Memburu berita dengan kondisi apa adanya. Mengendarai sepeda motor, meski ia bisa menelpon sopir untuk mengantar kami dengan mobil Dinasnya.

Sepeda motor mengarah ke Timur Kota Lewoleba, tepatnya menuju Desa Waipukang, Kecamatan Ile Ape. Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok.

Tiba-tiba debu terus menerus menerpa mata apalagi kami tak memakai pelindung. Rasanya perih, sama seperti kejadian letusan hebat tanggal 29 November 2020 lalu. Ah, rupanya ada debu vulkanis yang mengarah ke Kota Lewoleba Pukul 20.19 Wita.

“Ada abu hujan tipis. PGA membenarkan ada letusan kecil jam 19.20 wita. Arah angin beberapa hari ini dominan ke Barat,” saya membaca pesan dari coordinator Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian di WAG.  

Laju sepeda motor di pacu agar lebih cepat sampai ke Posmat. Jadilah acara ngopi di Pos Pengamatan Gunung Api. 

Setelah di dera 9 kali dentuman dan gemuruh sedang hingga keras, Jumad (8/1/2021) pagi hingga malam hari, saya ingin memantau kondisi Gunung Ile Lewotolok, Sabtu (9/1/2021), sebab sudah lebih dari sebulan warga di Lereng Ile Lewotolok terus dirundung duka. 

Saya juga sekaligus ingin memastikan, setiap pertanyaan masyarakat yang kerap di tujukan kepada Media. Kapankan aktivitas fulkanis Gunung Ile Lewotolok berhenti?

“secara umum, intensitas aktivitas Vulkanis Gunung Ile Lewotolok menurun, terhitung sejak erupsi Jumad 27 November 2020 dan di susul Erupsi dahsyat Minggu 29 November 2020. Saat ini memasuki fase normal. Namun status Gunung tetap Siaga,” ujar Jefri Pugel, Pengamat Gunung Api Ile Lewotolok. Ia menujukan grafik aktivitas vulkanis Gunung yang di rekam selama lebih dari 1 bulan.

Jefri Pugel mengatakan, pekan depan Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, dijadwalkan tiba di Lembata, guna mengevaluasi status gunung Ile Lewotolok.

Jefri memastikan, aktivitas Vulkanis Gunung Ile Lewotolo pasti akan berakhir dan kini sedang fase normal.  

Lihat saja, pada periode pengamatan Sabtu (9/1/2020), pukul 06.00 sampai pukul 12.00 Wita, teramati 2 kali letusan dengan tinggi 500 Meter dan warna asap putih dan kelabu. Terdengar suara gemuruh lemah. Pada periode ini, kegempaan didominasi tremor harmonic sebanyak 5 kali, dengan amplitudo 7-12 micro meter (mm) dengan durasi 35-60 detik.

Pada periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 wita, Gunung berstatus Waspada itu, terjadi sekali letusan disertai dentuman dan gemuruh lemah.

Sedangakan pada periode pengamatan pukul 18.00 hingga pukul 24.00 Wita, satu kali letusan disertai dentuman dan gemuruh lemah, sedangkan kegempaan di dominasi Hembusan sebanyak 8 kali dengan amplitudo 4-10 micrometer (mm), durasi 15-30 detik.

“energinya mulai melemah. Saat ini kita nikmati saja prosesnya. Kita mewaspadai adanya gempa vulkanik dalam (VA). Namun sejak erupsi 29 November 2020 sampai saat ini, seismograf analog manual maupun digital tidak pernah menangkap jenis Gempa VA ini,” ujar Jefri Pugel.

Disebutkan, gempa vulkanik dalam (VA) mengindikasi masih tingginya aktivitas magma di kerak bumi yang sedang mendorong keluar namun terhalang sistim gunung yang tertutup. Jika terpantau (melalui seismograf-red) adanya aktivitas gempa vulkanik dalam, maka potensi erupsi besar bisa saja terjadi.

“Saat Erupsi Minggu 29 November 2020 lalu, sekitar pukul 09.30 menit terpantau adanya gempa vulkanik dalam pada seismograf analog manual maupun digital kami. Kemudian disusul lagi adanya gempa vulkanik dangkal, disusul tremor menerus. Saat itu kami pastikan gunung ini akan meletus hebat. Pandangan mata kami arahkan ke puncak dan benar, pada pukul 09.45 menit, terjadi erupsi hebat. Ini pengalaman pertama kami saksikan bencana erupsi gunung berapi. Panik, namun kami harus tetap berada di Posmat, membangun koordinasi dengan BPBD,” ujar Jefri Pugel. 

Demikian pula keadaan pada periode pengamatan Mingu (10/1/2021). Asap kawah bertekanan lemah, teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal dengan tinggi 200 sampai 500 m diatas puncak kawah. Terdenagar suara gemuruh lemah.

Sedangkan kegempaan didominasi hembusan sebanyak 12 kali dengan amplitudo 0.5-1 mm, durasi 20-40 detik.  

Jefri mengatakan, Gunung Ile Lewotolok bertype Strato fulcano atau type Kerucut, namun saat ini tipe letusannya berubah menjadi Strombolian. Dengan sistim gunung yang sudah terbuka, Gerakan magma tidak terhalang sehingga energinya tersalurkan dengan pola letusan strombolian.   

Dinamo Seismograf Analog Manual Berfungsi Normal

Pengamat Gunung Api, Jefri Pugel dalam kesempatan itu menepis isu yang menyebutkan bahwa dinamo Seismograf analog manual di Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, dalam kondisi rusak.

Karena itu, sejumlah kalangan menghembuskan isu bahwa pencatatan data aktivitas Gunung bermasalah pula.  

“alat ini memang dinamonya tidak berfungsi normal, akan tetapi peroses pencatatan getaran atau kegempaan, tidak bermasalah. Lebih akurat malah. Karena kita juga memilik analog digital. Pencatatan getaran tidak masalah,” ujar Jefri Pugel.

Fase Normal

Koordinator Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian menjelaskan, gunung Lewotolok mulai memasuki fase normal, karena ditandai dengan munculnya gempa permukaan atau hembusan.

Data Seismik dan visual juga mengalami penurunan. Berkurang nya dentuman dan gemuruh. Artinya gunung Lewotolok mulai memasuki fase normal, karena ditandai dengan munculnya gempa permukaan atau hembusan itu.

Terpantau aktivitas menurun sejak tanggal 7 Januari 2021 pk. 00.00 Wita, memperlihatkan aktivitas sudah mulai menurun.

Ile Lewotolok memiliki karakteristik banyak gempa hembusan. Walaupun menurun kami masih pantau aktivitas dan dievaluasi oleh PVMBG Bandung. Kalo rekaman seismik tetap seperti ini. “Minggu Depan bersama tim PVMBG, kita sama-sama lihat hasil evaluasinya,” ujar Stanislaus Arakian.

Hanya satu kerinduan Warga di lereng Ile Lewotolok yakni bisa beraktivitas normal, sebab sudah lebih dari 1 bulan kedamaian seolah lenyap dari raut wajah mereka. (*S/Hj).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment