Jadi Bulan-Bulanan Warga, Nakes Minta Perlindungan Aparat Keamanan

By Admin HJ 26 Jul 2021, 21:31:38 WIB Daerah
Jadi Bulan-Bulanan Warga, Nakes Minta Perlindungan Aparat Keamanan

SEJUMLAH Dokter dan Kepala Puskesmas yang bertugas di 9 Kecamatan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Senin (26/7/2021) meminta perlindungan aparat Keamanan karena terus menjadi bulan bulanan selama pandemi Covid-19.

Permintaan pengamanan aparat keamanan tersebut terungkap dalam rapat kerja Pemerintah kabupaten Lembata bersama seluruh Dokter dan Kepala Puskesmas dan Nakes di halaman tengah kantor Bupati Lembata.

Rapat yang dipimpin PLT Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, serta Ketua DPRD, Petrus Gero  serta di fasilitasi Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali, guna mendengarkan masukan dari seluruh Kepala Puskesmas serta Dokter selama penanganan Pandemi Covid-19 di Lembata.

Baca Lainnya :

Di dalam Rapat tersebut, seluruh Nakes mengeluh telah menjadi bulan-bulanan karena perilaku warga yang tidak percaya adanya Covid-19.

Perilaku warga dipicu adanya isu sesat yang beredar baik melalui sosmed maupun doktrin yang disebar secara terstruktur.

Para Nakes itu mengeluhkan pengambilan paksa Jenazah pasien Covid-19, keluarga pasien yang terkonfirmasi Covid-19 dengan gejala berat menolak untuk dirujuk ke RSUD Lewoleba, warga tidak disiplin menjalankan Prokes dalam aktivitasnya sehari-hari, keluarga kontak erat dengan pasien terkonfirmasi Covid-19 melarikan diri saat hendak dilakukan tracking contac, serta keengganan warga mengikuti vaksinasi Covid-19.

Seperti pengakuan Dokter Heny, dari Puskesmas Waipukang, Kecamatan Ile Ape. Ia Mengeluh dihadapan PLT Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, bahwa ada seorang pasien terkonfirmasi Covid-19 meninggal, langsung diangkut paska keluarga.

Ia juga mengaku, warga mengikuti vaksinasi Covid-19 bukan karena kesadaran memperkuat herd imunity, melainkan hanya untuk mendapatkan surat vaksinasi sebagai syarat melakukan perjalanan.

Dokter Heny meminta pemberian kartu tanda pernah divaksin hanya kepada warga yang telah menjalani dua kali vaksinasi.

Lain lagi pengakuan Dokter Tika dari Puskesmas Lamau, Kecamtan Ile Ape Timur. Ia mengeluhkan pasien terkonfirmasi Covid-19 yang di rekomendasikan menjalani Isolasi 14 hari namun tetap bebas berkeliaran dan tidak di rumah, sedangkan satu keluarga mau di Tracking malah lari ke kebun.

Dokter Tika juga menyoroti kegiatan adat maupun kumpul keluarga di Desa tetap berlangsung tanpa prokes yang ketat. Ia menyarankan agar Satgas Covid di desa lebih gesit lagi menyosialisasi Prokes bagi seluruh warga.

Lain lagi pengakuan Dokter Indra dari Puskesmas Balauring, Kecamatan Buyasuri.

"Keluhan saya, kalau ada pasien terkonfirmasi covid-19 dengan gejala berat dirujuk merka tidak mau. Kita harus bujuk dulu, Paksa dulu baru mau. Harus lebih aktif sosialisasi Covid-19 kepada warga. Ini karena mereka tidak percaya Covid itu ada," keluh Dokter Indra.

Menurut nya, sikap keras kepala warga Lembata ini akan mempersulit upaya memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Sementara itu, PLT Bupati Lembata, Doktor Thomas Ola Langoday menegaskan, Pemerintah tidak boleh kalah dengan sikap keras kepala warga.

Ia meminta aparat kemanan untuk tidak segan-segan memberlakukan Undang-undang Kekarantinaan jika warga bersikeras degan pemahaman sesat.

"Siapa yang keluar dari jalur itu berurusan dengan hukum. 1 kali beri peluang orang lain akan ikuti. Ini menyangkut mati hidup rakyat Lembata, Jangan main-main," ujar Doktor Thomas Ola Langoday.

PLT Bupati Lembata pun menyampaikan  terimakasih kepada para dokter serta para Nakes yang sudah mengawal pengamanan pandemi Covid-19 di lapangan. Ia berharap seluruh warga Lembata lebih disiplin menjalankan Prokes. (*S/Hj).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda