Hari Ke 11, Karhutla Di Lembata Telah Melanda Dua Kecamatan
Karhutla Masuki Pekan Kedua

By Admin HJ 10 Sep 2020, 00:53:53 WIB Sekitar Kita
Hari Ke 11, Karhutla Di Lembata Telah Melanda Dua Kecamatan

Keterangan Gambar : Warga Berjibaku padamkan api di puncsk Ile Lewotolok Meski dengan peralatan seadanya


 

MEMASUKI hari ke 11, Rabu (9/9/2020), kebakaran di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, telah menghanguskan hutan dan lahan di dua Kecamatan yakni Ile Ape dan Ile Ape Timur.

Selain mengancam Kawasan hutan lindung Ile Lewotolok, RTK 90 seluas 5000 Ha, kebakaran hutan yang tidak kunjung dapat dipadamkan itu mengancam sejumlah rumah adat dan pemukiman warga.

Baca Lainnya :

Beruntung, kobaran api menjalar di wilayah puncak gunung Ile Lewotolok, mengitari puncak dari arah utara menuju Barat wilayah Kecamatan Ile Ape kemudian kini menuju wilayah Timur Kecamatan Ile Ape Timur.

Kobaran api yang terus meluas dari wilayah Kecamatan Ile Ape hingga ke wilayah Kecamatan Ile Ape Timur, mendorong warga di tiga Desa yakni Desa Watodiri, Desa Todanara dan Desa Jontona bergerak serempak.

Penjabat Kepala Desa Jontona, Rufus Making, Rabu (9/9/2020) menjelaskan, warga ketiga desa itu membuka posko gabungan di kampung adat Lamariang, Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, guna mengendalikan kobaran api yang terus terjadi sejak Minggu (30/8/2020) lalu.


“Api saat ini masih berada di wilayah Desa Lamawolo. Kami tidak mau api memasuki wilayah Desa Jontona. Karena kalau dia sudah lewati, kemungkinan besar api semakin besar karena di wilayah Jontona banyak hutan lebat yang mengering. Api akan sulit dikendalikan. Karena itu kami minta warga untuk padamkan beramai-ramai,” ujar Penjabat Kepala Desa Jontona, Rufus Making.  

Secara bergantian, warga berupaya memadamkan kobaran api yang terpantau dari Posko kampung adat Lamariang.

Dijelaskan, ratusan warga itu berjibaku mendaki ke puncak Gunung Ile Lewotolok sejak Selasa (8/9/2020) hingga Rabu (9/9/2020) untuk memadamkan api yang terus berkobar di wilayah puncak gunung tersebut.

Warga ketiga desa itu khawatir, kobaran api menghanguskan puluhan rumah adat di kampung Lewohala hingga menghancurkan ekosistem hutan lindung Ile Lewotolok, RTK 90.    

Pihak Kesatuan Perlindungan Hutan (KPH) Kabupaten Lembata, mengaku pada Selasa lalu, pihaknya telah berhasil memadamkan api di wilayah Desa Lamawara, Kecamatan Ile Ape.

“kemarin kami menuju titik api sekitar jam 2 dini hari. Kami dipandu oleh Bapak Rafael Raya dan Tinus Bupati. Menariknya, kedua orang tua ini mengerti api ini harus dimatikan pada titik mana dan bagaimana memutus laju api. Medan yang belum diketahui sangat menyulitkan petugas. Berkat panduan warga, petugas bisa tiba di titik api yang sedang menyala. Kemudian kami berupaya padamkan api dengan peralatan yang kami bawa,” ujar Kepala KPH Kabupaten Lembata, Linus Lawe, di kampung Lamariang, Desa Jontona, Rabu (9/9/2020).

Pihak KPH belum dapat memastikan, kebakaran yang menghanguskan hutan dan lahan milik warga di dua Kecamatan itu masuk Kawasan hutan lindung Ile Lewotolok RTK 90 yang telah ditetapkan seluas 5000 Ha itu.

“saya hanya bilang ada potensi kebakaran itu telah memasuki Kawasan hutan lindung Ile Lewotolok RTK 90. Tadi kita baru ambil titik koordinatnya. Titik koordinat itu kita kirimkan kepada Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH). Lembaga ini yang menentukan kebakaran ini sudah masuk dalam Kawasan hutan lindung atau di luar,” ujar Linus Lawe, Kepala KPH Kabupaten Lembata.

Dua Hari Padamkan Api Dengan Alat Seadanya 

Sementara itu, Rafael Raya Lagamaking, warga Desa Jontona kepada media ini di posko penanggulangan kebakaran, kampung Lamariang, Rabu (9/9/2020) menjelaskan, upaya pemadaman api di puncak Ile Lewotolok dilakukan sejak selasa (8/9/2020).

Rafael bersama warga lainnya menuju puncak Gunung berketinggian 1423 mdpl itu sejak pukul 4 subuh. Warga berupaya memadamkan api dengan membawa serta tong air penyemprot hama, kayu, parang dan peralatan seadanya.

Sampai jam 7 malam, dirasakan api sudah dapat dipadamkan, ia bersama warga Kembali ke posko Lamariang untuk makan malam.

Setelah makan malam, dirinya kembali lagi ke puncak gunung karena muncul lagi sejumlah titik api.  

“kemarin banyak titik api. Kebanyakan api melebar. Kami jaga areal Desa Jontona. Satu-satunya tempat yang bisa diamankan adalah kali. Kami mau api harus mati di Kali itu, karena kalau lewat lagi dia akan semakin besar dan pasti merambat sampai ke kampung Lamawolo. Sekarang tersisa satu titik api di wilayah Desa Jontona. Dan satu titik di wilayah Desa Lamawolo,” ujar Rafael.

Rafael mengaku, pihaknya mematikan api dengan cara memukul dengan menggunakan kain basah, juga dengan menggunakan tengki penyemprot hama. Kain basah dipergunakan untuk mematikan bara api, sedangkan tengki penyemprot hama untuk mematikan nyala api.  

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Gunung Ile Lewotolok itu terjadi sejak Minggu (30/8/2020) lalu. Api bermula dari wilayah Desa Bunga Muda, Kecamatan Ile Ape. Di kampung Bunga Muda api telah menghanguskan 28 unit rumah adat berikut peninggalan bernilai historis magis, di kampung adat Napaulun.

Antisisipasi meluasnya kebakaran oleh warga Desa Watodiri, Todanara dan Jontona, salah satunya demi menyelamatkan kampung adat Lewohala.

Kampung adat tersebut milik warga di 8 Desa, yakni Desa Petun Tawa, Desa Riang Bao, Desa Kolontobo, Desa Laranwutun, Desa Muruona, Desa Watodiri, Desa Todanara dan Desa Jontona di Kecamatan Ile Ape Timur. (*S/HJ).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment