Diterlantarkan Orang Tua, Anak Di Lembata Pilih Kawin Muda
Stop Kekerasan Sexual Anak

By Admin HJ 10 Okt 2020, 23:20:30 WIB Kesehatan
Diterlantarkan Orang Tua, Anak Di Lembata Pilih Kawin Muda

Keterangan Gambar : Aktivis Adriana Banguhari dan Maria Loka dari (LSM) Peduli Perempuan dan Anak Lembata (Permata) bersama korban kekerasan sexual anak


KASUS persetubuhan anak di bawah umur hingga menyebabkan kehamilan, kembali terjadi di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ironisnya, baik pelaku maupun korban sama-sama diterlantarkan orang tuanya. Kasus ini sudah dilaporkan ke pihak Polres Lembata, Rabu (7/10/2020) kemarin.

Relawan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Perempuan dan Anak Lembata (Permata), Adriana Banguhari, menuturkan, saat ini pihaknya menangani kasus persetubuhan anak di bawah umur hingga menyebabkan kehamilan.

Terduga pelaku dan korban yang merupakan warga desa Dolu, Kecamatan Omesuri. Keduanya adalah anak di bawah umur. Akibat perilaku tak terkontrol, anak perempuan saat ini sedang hamil tujuh bulan.

Baca Lainnya :

Orangtua kedua anak sudah bercerai dan kini sudah lama tinggal di perantauan. Pihak keluarga kesulitan mendeteksi keberadaan kedua orang tua korban dan pelaku.  

"Kasihan mereka ini tidak tahu baca tulis juga dan sekarang tinggal dengan keluarga. Ini kan salah satu dampak dari penelantaran anak," imbuh Adriana.

Bagi Adriana, peran serta masyarakat dan pemerintah desa itu sangat perlu dalam mengatasi dampak buruk dari penelantaran anak.

"Lihat anak-anak jalan malam itu harus tegur dan kembalikan ke rumah. Kalau tidak, pergaulan mereka tidak bisa dikontrol dan mereka juga bisa dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab," ujarnya.

Hingga paruh kedua tahun 2020, sebanyak 28 anak di Lembata menjadi korban penelantaran kedua orang tuanya. Anak perempuan sebanyak 12 dan laki-laki sebanyak 16 anak. Jumlah ini meningkat dari tahun 2019, yakni sebanyak 9 kasus.

Direktris Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Perempuan dan Anak Lembata (Permata) LSM Permata, kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Maria Loka, menyebutkan, kasus penelantaran anak masih banyak tidak terdata.

Menurut Maria, terus meningkatnya kasus penelantaran anak rata-rata dipicu persoalan ekonomi serta kegagalan berumah tangga pasangan suami dan isteri, membawa dampak yang sangat buruk.

Akibat penelantaran tersebut, hak-hak anak tidak bisa terpenuhi, seperti anak tidak mempunyai akta kelahiran, dan akses pendidikan mereka tidak terpenuhi dengan baik.

"Akibat yang paling buruk itu anak alami kekerasan seksual, bahkan jadi pelaku kekerasan," tambah Maria di Sekretariat Permata, Waikomo, Lewoleba, Kamis (8/10/2020).

Maria mengatakan alasan anak ditelantarkan itu biasanya karena orangtuanya bercerai dan pergi merantau. (*S/HJ).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment