Buya Syafii Maarif, Taladan Peradaban

By Admin HJ 28 Mei 2022, 16:47:29 WIB Seni & Budaya
Buya Syafii Maarif, Taladan Peradaban

By. Muhammad Husen Db.

Semoga Allah menyayangi dan menempatkan Buya di surga Firdaus. Aamiin.

MENGENANG buya, pertama kali bertemu dan bertatap muka saat sebuah agenda kaderisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Baca Lainnya :

Kala itu sekitar tahun 2007-an, saya mengikuti Darul Arkom Paripurna (DAP), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Kaliurang Yogyakarta.

Dalam agenda perkaderan, ada narasumber ayahanda Buya Syafii Maarif. Selepas solat qiyamullail di Kaliurang, kami bersama panitia pelaksana turun menggunakan mobil sedan menuju mesjid kecil yang biasa Buya solat subuh di sleman Yogyakarta.

Setelah solat subuh, kita kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dengan sigap membentuk lingkaran mendekati Buya Syafii Maarif. Sosok yang sangat sederhana, dengan kalimat kalimat sederhana yang sangat kental dengan makna filosofis.

Semakin lama kita duduk bersama Buya, semakin kita di uji kemampuan berpikir kritis penuh kesantunan. Dengan semangat Buya menyampaikan betapa bangsa ini membutuhkan kaum muda yang kuat pikirannya dalam menjaga marwah bangsa.

Indonesia tidak hanya sebagai negara yang diperbincangkan dunia tetapi juga harus terus di jaga bagaimana keseimbangan cara kerja kualitatif produktif.

Menggenggam tangan Buya, serasa menerima energi gerakan yang mengisyaratkan bahwa masih banyak anak bangsa yang mau bersusah payah menjaga marwah bangsa.

Mengurus bangsa, tidak terus-menerus terjebak bahkan terkoyak dan tergoyahkan oleh politik bangsa lain. Kita harus bisa besar dan membesarkan bangsa ini dengan kaki tangan kita sendiri. Kita tidak perlu takut apalagi meminta-minta, bahkan menyembah bangsa lain sebagai bentuk merendahkan bangsa kita. Itu bukan karakter bangsa kita. Kita harus menjadi tuan di negeri sendiri.

Sejak itu, saya tidak pernah lagi berjumpa dengan Buya secara langsung. Saya hanya melihat dan mendengar pikiran Buya dari berbagai media dan cerita kader Muhammadiyah yang secara langsung bertemu beliau.

Pada akhir tahun 2021 yang lalu, saya berkesempatan ke Yogyakarta dalam acara Rakorwil Partai NasDem, saya sempat meminta waktu melalui pesan WA untuk bertemu dengan Buya.

Hanya dengan santun Buya menyampaikan permohonan maaf belum bisa menerima semua tamu karena kondisi yang sedang kurang fit.

Saya sebenarnya berkeinginan untuk berjumpa dengan beliau sekaligus menyampaikan jalan ikhtiar yang sedang saya perjuangkan. Saya merasa bahwa dengan bertemu buya, energi saya bisa semakin kuat dan kokoh menjalani proses politik yang kian hari kian rapuh.

Keinginan bertemu Buya adalah ingin menyampaikan bahwa, saya akan maju menjadi Bupati Flores Timur 2024-2029. Saya akan melaporkan semua yang telah saya lakukan sebagai pembuktian atas nilai kegigihan yang Buya ajarkan untuk saya dan kita semua.

Menjadi pemimpin seperti Buya adalah kepemimpinan yang nilainya bukan hanya secara horizontal untuk kemanusiaan, tetapi jauh dari itu sebagai bentuk pertanggungjawaban vertikal kepada Allah azza wa jalla.

Betapapun saat ini buya sedang dalam perjalanan indah bertemu dengan sang kekasih, pemilik jiwa dan sang penyayang, Allah azza wa jalla, saya mengiringi doa sebagai wujud pengakuan bahwa saya adalah orang yang pernah belajar langsung bersama Buya. Pelajaran yang Buya berikan sebagai imbalan ganjaran nilai ilmu bermanfaat yang pahalanya terus mengalir.

Dalam perjalanan Buya bertemu sang khaliq, saya mengiringi kepergian Buya dengan ucapan semoga husnul khotimah dan ganjaran surga firdaus.

Semua pikiran dan nilai yang buya ajarkan akan menjadi bekal bagi kami untuk menatap bangsa ini dengan kerja produktif penuh dedikasi.

Meski raga Buya tidak ada di alam dunia ini, tetap saja nilai dan semangatnya tetap ada untuk kami murid-muridmu.

Salam sayang kami untuk sosok teladan zaman, teladan peradaban. Selamat Jalan Buya Syafii Maarif. Innalillahi wa inna ilaihirajiun.

Bahalone, 28 Mei 2022

Debe - Muhammad Husen Db.





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda