Budaya dan Alam Di Dulir Yang Terisolir Jadi Destinasi Wisata Unggulan
DTW Unggulan Lembata

By Admin HJ 06 Agu 2020, 13:15:30 WIB Wisata
Budaya dan Alam Di Dulir Yang Terisolir Jadi Destinasi Wisata Unggulan

Keterangan Gambar : Penjabat Kepala Desa Dulir, Maria Monika Bungan Saat Menuruni Jalan Terjal ke Desa Dulir


KEUNIKAN bebatuan yang menyerupai manusia di Tanjung Atadei dan eksotisme kampung adat Lamanunang di dalam wilayah administrative Desa ini, menyumbang daya pikat wisata alam dan budaya yang akan dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat bahkan menetapkan potensi wisata di desa terpencil itu dalam daftar Daya Tarik Wisata Unggulan (DTW), wilayah pengembangan Pariwisata II di Kabupaten Lembata.

Desa Dulir, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, terletak kurang lebih 50 Km dari kota Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata. Desa tersebut dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Baca Lainnya :

Dengan luas wilayah mencapai 9,01 Km persegi dan jumlah penduduk sebanyak 375 jiwa, kampung terbilang terpencil ini ternyata memiliki beberapa rumah adat, tempat diselenggarakan ritual makan jagung muda setiap tahun.

Saat berkunjung ke rumah adat Lamanunang, anda akan disajikan Panorama alam berbukit yang mengelilingi kampung. Suasana mistis dan inspiratif di kampung tradisional itu turut menopang daya pikat di Desa itu.


Pengunjung dapat pula melakukan wisata petualangan alam dari Desa Dulir menyisir pantai bebatuan untuk melihat Batu Tengkorak dan Batu Atadei. Batu tersebut menyerupai manusia dipinggir Pantai. Batu Atadei ini menjadi tempat ritual adat oleh masyarakat lokal apabila kekurangan hujan pada musim penghujan.

Konon, menurut kisah lisan turun temurun di Desa Dulir, dalam pelariannya akibat bencana alam, orang yang kini membatu di tanjung Atadei itu melanggar pantangan berlari sambil menoleh ke belakang. Akibatnya, orang tersebut kemudian berubah menjadi batu di tanjung Atadei. 

“Pengembangan infrastruktur wisata masih dalam pembenahan, sehingga dapat menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Lembata. Fasilitas dan sarana prasarana belum ada,” ujar Apol Mayang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata.

Dana Desa Mulai Merubah Wajah Desa Dulir

Memasuki usia Negara Indonesia, ke 75, Desa Dulir, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih terisolir. Beruntung, kucuran Dana Desa yang langsung ditangani pemerintah Desa mulai merubah wajah Desa tersebut.  

Penjabat Kepala Desa Dulir, Maria Monika P. Bungan kepada humanitarianjournal.com mengatakan, infrastruktur dasar di Desa yang dipimpinnya itu hingga saat ini masih memiliki berbagai kekurangan.

Menurut Penjabat Kepala Desa, Maria Monika P. Bungan, satu-satunya akses Jalan menuju Desa Dulir adalah dari Desa Lerek sepanjang 7 Km. Oleh Pemerintah Desa Lerek, ruas jalan utama itu baru dirabat sepanjang 300 meter.Selebihnya, masih berupa tanah dengan bebatuan kerikil yang berserakan di badan jalan sempit dan terjal.

Tak hanya itu, ruas jalan yang menghubungkan Dusun Lamanunang dengan Dusun Dulirpun saat ini sudah rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaran roda dua maupun roda empat. Jalan menuju Dusun Lamanunang dari Desa Lerek, dibuka pada tahun 2012.

Namun berkat Dana Desa yang diterima sebanyak 851 Juta rupiah, ditambah ADD, Desa tersebut mulai berbenah.

“kami baru selesaikan rabat jalan di dalam kampung, terakhir sepanjang 262 Meter, menghabiskan anggaran 218 juta rupiah. Kami juga buka jalan usaha tani sepanjang 1,3 km menghabiskan anggaran 77 Juta rupiah, sedangkan pada pemenuhan kebutuhan air minum, kami dapat bantuan dari pamsimas senilai 300 juta untuk sambungan saluran air bersih sepanjang 1 km. Untuk hal ini Desa memberikan kontribusi sebanyak 30 Juta rupiah. Saat ini sedang proses pencairan anggaran. Di sector Pendidikan saat ini sedang dibangun sebuah gedung perpustakaan. Dalam tahap finishing,” ujar Penjabat Kepala Desa Dulir, Maria Monika P. Bungan.

Namun Penjabat kepala Desa Dulir mengatakan, ruas jalan penghubung antara Dusun Dulir dan Dusun Lamanunang dikerjakan pada tahun 2012, periode pertama Bupati Yentji Sunur, sudah tergerus banjir. Sehingga 30 KK warga di dusun Lamanunang, hanya dapat berjalan kaki, pergi dan pulang ke dusun tersebut. Komoditi wargapun hanya sedikit saja yang dapat dibawa keluar.

“Kalau akses wisatawan ke kampung tradisional Lamanunang, hanya bisa dengan berjlan kaki, karena jalan raya sudah digerus banjir,” ujar Penjabat Kepala Desa Dulir, Maria Monika P. Bungan.

Sedangkan akses menuju objek wisata pantai Tanjung Atadeipun hingga saat ini belum bisa dianggarkan dengan Dana Desa.

Penjabat Kepala Desa Dulir berharap, pemerintah Kabupaten Lembata dapat menganggarkan Kembali dana senilai 800 juta yang pernah dijanjikan pemerintah namun tertunda akibat kebijakan refocusing saat pandemi covid-19.

“kalau bisa pemerintah anggarkan Kembali anggaran senilai 800 juta yang kami pernah dengar karena anggaran itu untuk membuka akses menuju objek objek wisata unggulan kabupaten Lembata,” ujar Penjabat Kepala Desa Dulir, Maria Monika P. Bungan.(*S/HJ)





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment