BBGRM Di Nubatukan Fokus Mengejar Target Zero Stunting 2022

By Admin HJ 28 Mei 2022, 10:16:36 WIB Daerah
BBGRM Di Nubatukan Fokus Mengejar Target Zero Stunting 2022

PEMERINTAH Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengarahkan pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) guna mengejar target zero stunting 2022 yang pernah ditetapkan mantan Bupati Lembata, Thomas Ola.

Camat Nubatukan, Dionisius Ola Wurun menegaskan, di sisa waktu BBGRM tersebut, 7 kelurahan dan 11 Desa di Kecamatan Nubatukan, bertekad memberantas stunting.

Pencanangan BBGRM sendiri dilaksanakan serentak di Desa Belobatang dan di Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan.

Baca Lainnya :

Camat Nubatukan, Dionisius Ola Wutun, SE, Jumad (27/5/2022), usai mencanangkan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) se Kecamatan Nubatukan, di aula Kelurahan Selandoro, menyebut, BBGRM akan berlangsung hingga 30 Mei 2022.

Camat Nubatukan, Dionisius Ola Wutun menyebut, Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong masyarakat jadi agenda rutin setiap tahun baik di tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan Pusat sesuai Permendagri Nomor 42 tahun 2005.

"Di Kecamatan Nubatukan sendiri, kita kemas 3 kegiatan yakni, rembuk stunting , sosialisasi mengatasi stunting, mendorong peran masyarakat bergotong royong peduli lingkungan. Ada yang mengerjakan Jumad bersih dan pelayanan publik lainnya.

Waktu pelaksanaannya sejak 1 sampai 30 Mei 2022," ungkap Camat Nubatukan, Dionisius Ola Wutun.

Ia menegaskan, Pemerintah bersama aparat paling bawah harus sama sama bergotong royong menjawab penanganan stunting, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

"Saya tegaskan kepada Lurah dan Kepala Desa untuk melayani masyarakat dengan kasih, sebab segala sesuatu berkaitan dengan pelayanan masyarakat itu berasal dari Hati kita," ungkapnya.

Berkaitan masih tingginya angka prevelansi stunting di Nubatukan, menurutnya berkaitan dengan pola asuh. Karena itu perilaku masyarakat faktor utama. Kurang perhatian ibu, berkontribusi pada peningkatan stunting.

Meski demikian, ia menyebut adanya stunting tradisional, yang dipengaruhi faktor gen sering menambah panjang daftar stunting dalam data prevelensi stunting.

"Faktor alat ukur yang digunakan tim medis juga harus standar nasional agar memudahkan pencapaian akurasi data.Para medis juga harus melihat itu, termasuk juga tinggi dan berat badan," ujarnya.

Camat Nubatukan mengatakan, tingkat prevelency stunting di Kecamatan dengan jumlah penduduk paling tinggi itu,  tahun 2016; 24,5% bergerak naik sampai tahun 2017 menjadi 46,8% dan tahun 2019 turun menjadi 27,6%.

"Data kita saat ini adalah 16,562 yang berisiko terhadap stunting maka itu tdk ada alasan lain. Yang ada adalah harus punya konsep pencegahan dini yang baik. Masalah kurang gizi kronis disebabkan kurangnya asupan gizi dalam kurun waktu yang lama sehingga harus dipersiapkan lebih awal untuk itu konsepnya juga dipersiapkan dengan matang," ungkapnya. (*S/Hj).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda