Baru Lolos, Saharudin Oknum Anggota TNI Asal Lembata Di Adukan Ke Mahkamah Militer

By Admin HJ 08 Jun 2022, 14:09:52 WIB Hukum
Baru Lolos, Saharudin Oknum Anggota TNI Asal Lembata Di Adukan Ke Mahkamah Militer

HABIS Manis Sepah Dibuang. Begitulah yang dirasakan Kadijah Bano, 18 tahun, warga Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Sebab, pacarnya yang bernama Saharudin Idara yang dipacari sejak 2018 lalu, kini mendepaknya setelah lolos menjadi anggota TNI.

Padahal, sepasang sejoli ini telah berhubungan suami isteri di masa berpacaran dengan iming-iming akan menikah.

Baca Lainnya :

Saharudin kini bertugas sebagai prajurit TNI Angkatan Darat di Merauke, Papua nekat memutus kisah asmara bersama Kadijah hanya karena Kadijah meminta uang senilai 300 ribu dari total 800 ribu yang dipinjamkan kepada Hamid (adik kandung Saharudin) untuk pembayaran uang kuliah Kakaknya Kadijah di kampus Merdeka, Malang.

"Kalau saya ganti uang tiga ratus ribu rupiah maka masalah selesai dan hubungan kita juga selesai," ungkap Kadijah menirukan ucapan Saharudin.

Namun, menurut Kadija, jika hendak memutuskan hubungan, maka orang tua Saharudin harus bertemu keluarga Kadija seperti diatur dalam tradisi budaya Lamaholot.

Namun permintaan Kadija diabaikan Saharudin bersama keluarganya.

Kadijah bersama keluarganya nekat mempersoalkan kasus tersebut ke Mahkamah Militer (POM) Ende, setelah proses adat kawin-mawin sebagaimana diatur dalam masyarakat adat Lamaholot, sama sekali tidak digubris pihak keluarga Saharudin, meski inisiatif pengurusan masalah ini menurut tradisi Budaya Lamaholot berkali-kali dilakukan.

Kepada Pers di Lewoleba, Selasa (7/6/2022), Kadijah menuturkan, pada bulan Maret 2020, Saharudin sendiri bahkan meminta ijin kepada Kadijah untuk mengikuti test menjadi Prajurit TNI, dengan syarat, setelah lolos keduanya tidak buru buru menikah hingga 5 tahun kemudian, sebagaimana syarat test TNI.

"Saat itu kami berjanji kalau Saharudin tidak lolos menjadi Tentara berarti langsung pulang dan menikahi Kadija, tapi kalau lolos menjadi TNI berarti Kadija harus menunggu sampai lima tahun baru kedua keluarga besar bertemu untuk membicarakan pernikahan kami berdua," ujar Kadija.

Upaya Kadijah bersama kedua orang tuanya menuntut pertanggungjawaban oknum anggota TNI itupun menemui jalan buntu. Kasus tersebut bahkan sempat dimediasi oleh pihak Kepolisian Resort Lembata, namun tidak menemui jalan keluar.

"Kami tidak ngotot agar anak kami ini harus jadi suami isteri, tetapi sebagai orang Lamaholot, tradisi adat harus tetap dijalankan," ungkap Hamid dan Halima Lipat, ayah dan ibu Kadija.

Kedua orang tua Kadijah menyayangkan sikap masa bodoh yang di tunjukan oleh keluarga Saharudin.

Kadijah mengaku memiliki alasan disertai bukti kuat untuk mempersoalkan kasus persetubuhan anak dibawah umur dan pelecehan sexual yang dilakukan Saharudin yang kala itu belum menjadi anggota TNI.

"Saya memiliki bukti bukti bahwa Saharudin pernah melakukan pelecehan sexual kepada saya. Saat kami berpacaran sejak tahun 2018 di Sekolah MA Nursalam Lewoleba. Saya meyerahkan keperawanan saya karena janji janji manis Saharudin yang akan menikahi saya," ungkap Kadijah di Lewoleba.

Sementara itu, Nasir Yusuf Pureklolon, kerabat Kadijah menegaskan, pihaknya akan mengadukan masalah pelecehan sexual dan persetubuhan anak dibawah umur ini ke Mahkamah Militer (POM) di Ende. (*S/Hj).





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda